Palu – Program Sekolah Rakyat dinilai memiliki keunggulan karena tidak hanya memberikan layanan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, dan kebiasaan hidup peserta didik melalui sistem pendidikan berasrama.
Guru Besar Universitas Tadulako Palu, Prof. Juraid Abdul Latief, M.Hum, mengatakan konsep berasrama dalam Sekolah Rakyat memungkinkan peserta didik mendapatkan pembinaan selama 24 jam. Dengan sistem tersebut, anak-anak tidak hanya mengikuti pembelajaran akademik di kelas, tetapi juga dibimbing dalam kehidupan sehari-hari oleh guru, wali asuh, dan wali asrama.
“Kalau boarding school itu, anak-anak berada 24 jam di sekolah. Membentuk karakter peserta didik, ini saya sangat dukung karena karakternya dididik setiap waktu oleh gurunya,” kata Prof. Juraid Abdul Latief, dikutip dari podcast kolaborasi Kantor Berita ANTARA Biro Sulteng dan Diskominfosantik Sulteng.
Menurut Prof. Juraid, sistem tersebut penting di tengah perkembangan dunia yang semakin terbuka. Ia menilai, anak-anak saat ini menghadapi banyak tantangan, termasuk penggunaan telepon genggam dan akses informasi yang luas. Karena itu, lingkungan pendidikan berasrama dapat membantu mengarahkan peserta didik agar lebih fokus belajar dan membangun kebiasaan positif.
Ia menambahkan, Sekolah Rakyat juga memberi ruang bagi pembinaan sikap, mental, keterampilan hidup, dan kedisiplinan. Anak-anak dibiasakan mengikuti tata tertib, menghargai waktu, membangun kebersamaan, serta memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan.
“Selain keterampilan kognitif, mereka punya psikomotorik dan kemampuan afektif yang bagus. Bahkan ada keterampilan lain yang dibina oleh wali asuh dan wali asrama selama 24 jam,” ujarnya.
Prof. Juraid meyakini, perubahan tersebut akan terlihat nyata setelah peserta didik menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat. Ia bahkan memperkirakan orang tua akan merasakan perubahan sikap anak-anak mereka, terutama dalam hal kedisiplinan, penghormatan kepada orang tua, dan motivasi belajar.
“Orang tua akan kaget perubahan sikap anaknya. Selain menghormati orang tuanya, disiplin waktunya, dan ketagihan belajar itu akan berubah ketika selesai pendidikannya,” jelasnya.
Ia mengatakan, perubahan yang dibentuk melalui Sekolah Rakyat tidak hanya menyentuh aspek fisik atau akademik, tetapi juga mental dan kebiasaan sehari-hari. Dalam jangka waktu pendidikan yang panjang, peserta didik memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri dan siap menghadapi masa depan.
Prof. Juraid juga menilai lulusan Sekolah Rakyat memiliki peluang untuk bersaing dengan siswa dari sekolah lain, termasuk sekolah swasta. Hal itu karena mereka mendapatkan pembinaan secara menyeluruh, baik dari sisi pengetahuan, karakter, maupun keterampilan praktis.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa kritik terhadap program ini tetap dapat muncul. Namun, menurutnya, kritik merupakan hal biasa dalam pelaksanaan program baru, terutama program yang menggunakan anggaran besar dan menyasar perubahan jangka panjang.
